Posisi

Teriknya matahari di Makasar membakar kulitku. Hiruk-pikuk orang-orang membuatku bingung menemukan sopir yang kusewa untuk pergi ke panti. Hampir 30 menit aku berlalu-lalang di bandara menanyakan satu persatu orang yang kukira adalah sopir yang kusewa. Namun tidak kutemui juga. Berkali-kali aku menelpon nomor sopir itu, namun tidak ada jawaban. Aku terduduk lelah di pojokan bandara. Ramainya bandara membuatku tak menemukan kursi kosong. Berkali-kali aku menghela napas dan menengok kekiri dan kekanan. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaannya.

Continue reading “Posisi”

Surat

Hujan membasahi kota ditengah bulan Februari. Aku menapaki jalan setapak menuju rumah. Dinginnya hari terasa menusuk kulitku meski aku terlindungi jas hujan. Perjalanan kerumah menjadi terasa sangat jauh untuk hari ini. Aku menghela napas dalam-dalam. Setelah keluar dari kepolisian, aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku memejamkan mata dan berpikir sejenak tentang rencanaku. Aku akan tetap pada tekadku.

Continue reading “Surat”