5. Papa

1 Januari 2010
Aku terluka karena Dinda dan kawan-kawan.
Biarkan.
Karena hari ini Papa pulang.
Yey, senangnya.

5 Februari 2010
Lagi, lagi kerja. Ya sudahlah.
Nara juga bisa.
Aku ga apa-apa.

10 Maret 2010
Kuliah-rumah-kuliah-rumah.
Papa, kapan pulang ya?

30 Desember 2011
Hujan deras hari ini.
Tak ada yang bisa aku lakukan lagi.
Lelah.
Menunggu dan kemudian ditinggalkan.
Aku memang bodoh.
Selamat jalan, Papa.
Semoga tenang disana.

2 Februari 2012
Semua terasa sepi dan kacau. Aku tak tau lagi bagaimana. Mama terdiam dalam lamunannya.
Bayangan Papa, masih tertinggal disini.
Aku pusing memikirkan semua hal.

23 Juli 2012
Selamat akhirnya menjadi sarjana Akutansi.
Meskipun kurang lengkap tanpa Papa, tapi aku harus kuat.

1 Januari 2013
Ini semua sangat sulit. Aku tak bisa. Mama mulai kacau. Aku butuh seseorang yang ada untukku. Aku tak sanggup dengan ini semua. Aku tak tau harus menceritakan ini semua kemana. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi. Aku butuh seseorang. Aku sangat butuh.

4. Mama

4 Desember 2013
Pagi ini aku menemukan Mama tak memanggilku. Mama hanya diam dan duduk diruang tamu seperti yang biasa Mama lakukan saat menunggu Papa. Aku sebal ketika Mama kembali ke kondisi depresi karena kehilangan Papa. Mama tak seharusnya begini. Akupun juga sedih. Tolong, jangan menyusahkanku.

11 Desember 2013
Mama membuatku tak bisa berangkat kerja hari ini. Ia terus-terusan menangis dan memanggil-manggil Papa. Aku tak tau harus menghubungi siapa. Sanak-saudara berada jauh dari rumah dan Nara masih dinas.

15 Desember 2013
Lagi-lagi ia menangis dan memecahkan barang-barang. Mama tolong sudahi ini, aku lelah. Akupun juga sedih kehilangan Papa.

16 Desember 2013
Nara menelponku. Aku tak kuasa lagi.
Akhirnya aku menceritakannya apa yang terjadi.
Dan mungkin inilah jalan satu-satunya yang harus kutempuh.
Semoga aku kuat.

20 Desember 2013
Aku membawa Mama ke Rumah Sakit Jiwa. Ini pilihan yang berat. Aku dan Nara juga sebenarnya tidak menginginkan ini. Mama, Selamat tinggal. Semoga Mama senang disana.

21 Desember 2013
Akhirnya setelah hampir 1 minggu terpaksa ambil cuti, aku bisa kerja lagi. Suasana rumah sekarang sudah mulai tenang. Aku bisa tidur nyenyak dan tak mendengar Mama menangis atau melempar barang-barang ditengah malam.

24 Desember 2013
Aku kedatangan tetangga baru. Ia orang yang begitu baik dan ramah. Bu Mila namanya. Mirip namaku Mita dan Mila. 🙂
Aku senang ngobrol bersamanya. Aku menceritakan semuanya dengannya. Meskipun baru bertemu tapi aku merasa sudah mengenalnya sejak lama. Aku akan berbagi banyak cerita padanya.

31 Desember 2013
Akhir tahun ini, aku menghabiskan waktu di rumah Bu Mila. Senangnya bersamanya menyambut tahun baru. Setiap hari bersamanya tidak membuatku merasa bosan. Ini tidak seperti biasanya. Bu Mila benar-benar menyenangkan. Aku akan kesana setiap hari dan cerita banyak hal.

3. Hari – hari

Aku berkeliling lantai 2 mencari kamarku.
Aku benar-benar ingat dimana kamarku berada.
Kamarku ada dilantai 2 dan berada dipaling depan.
Aku masih ingat setiap malam menunggu Papa pulang dengan mengintip jendela yang mengarah tepat ke gerbang.
Sekarang aku menemukan kamarku berada dipojok belakang.

Kenapa? Sejak kapan?
Hari ini aku benar-benar bingung.
Hari telah berlalu. Aku bangun dan berangkat kerja seperti biasanya.

Duduk diam dan fokus kerja di mejaku.
Makan siang dipojokan sendiri.
Pulang.

Rumah yang sepi.
Aku membuka hp.
Tak ada email dari adikku.
Mamapun aku tak tau dimana.

Hari telah berganti.
Rumah, kantor, dan kembali ke rumah.

Kosong.
Sepi.
Sendiri.

Aku membuka hp kembali.
Aku baru menyadari aku tak memiliki kontak siapapun selain Rumah, Papa, dan Nara adikku.

Nomor Papa sudah pasti mati karena sudah 4 tahun tidak dipakai.

Air mataku mengalir tanpa kusadari.
Kesunyian ini menjadi teman tidurku malam ini.

Gelap.
Aku mendengar suara langkah kaki.
Siapa?.
Aku tak bisa bicara karena takut.
Aku mendengar suara tawa.
Siapa?
Aku bisa mengenali suara itu.
Mengapa?
Mereka orang-orang yang mem-bully-ku dulu.

Ah sakit.
Kepala ini sakit sekali.
Aku menjerit kesakitan dan suara tawa itu semakin keras.
Sakit.

Aku terbangun.
Untung itu hanya mimpi.

Aku kembali ke aktifitasku biasanya.
Rumah, kantor, dan kembali ke rumah.

Sore ini aku melihat tetanggaku itu sedang menyiram tanaman.

Ia melihatku dan tersenyum sambil mengucapkan selamat sore.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan masuk kerumah.

Kemana keluargaku?
Tidak, hanya Mama yang tidak kuketahui ada dimana.

Aku membuka laptopku dan kembali menulis diari seperti biasanya.

Ah….
Aku bosan.
Sendiri, aku merasa kesepian.

Aku membaca ulang diari ku.
Hari-hariku hanya mengulang kegiatan yang sama.
Tak ada yang menarik.

Hah …
Mengela napas keras-keras.
Sepi.
Bosan.

Aku membuka halaman-halaman terdahulu.
Begitu banyak yang aku tulis.
Tentang apa?

Hal yang menyenangkan dari memiliki diary, kita seperti bisa kembali kemasa lalu hanya dengan membacanya kembali.

Tunggu ada yang aneh di-diary ku.

2. Keluarga

Aku bingung dan membuka tas.
Sebuah gantungan kunci yang biasa untuk kunci rumah berada dalam tasku.
Bingung dan kacau yang kurasakan.

Aku tinggal seorang diri?
Mengapa aku baru menyadarinya?

Aku memasuki rumah dengan seribu pertanyaan.

Kosong yang kurasa sekarang.
Bagaimana rasanya tinggal sendiri?
Apa yang kulakukan jika sendiri?
Sejak kapan aku tinggal sendiri?

Matahari yang telah meninggalkan hari ini, membuat rumah yang baru saja aku buka pintunya, terlihat begitu menyeramkan.

Aku memasuki dapur dan mulai melihat sekelilingku.

Kapan aku bisa masak?
Terakhir kuingat, aku hanya membantu Mama memotong-potong wortel.
Beberapa resep masakan tertempel dipintu-pintu lemari gatung.
Siapa yang menempelkannya?
Akhirnya aku memesan pizza.
Tapi, aku sendiri tak bisa menghabiskannya.
Aku meletakkan sisa pizza ke kulkas.

Apa itu?
Sebuah tempat makan yang berisi beberapa pao.
Siapa yang menarunya?
Mungkin Mama, karena Mama tau aku suka pao.

Aku membuka album-album lama yang ada dilemari kaca ruang keluarga.

Senangnya bisa melihat foto kita bersama-sama dirumah ini.
Papaku seorang polisi, ia sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Ketika aku masih kuliah ditahun ke 2.
Mama seorang ibu rumah tangga yang begitu cekatan, kuat, dan disiplin.
Adikku mengikuti jejak papa menjadi seorang polisi. Meskipun kini ia jarang pulang karena sedang pelatihan disuatu tempat terpengecil yang dirahasiakan. Tapi kadang ia masih mengirimkan email.
Sedangkan aku, satu-satunya anak yang tak bisa menjadi polisi. Aku sering sekali dibully saat sekolah dan saudara dan saudariku yang pasti menolong dan menyemangatiku. Papa selalu bilang,
“Untuk menyelamatkan seseorang belum tentu harus dengan kekuatan fisik, tapi juga bisa dengan kekuatan pikiran”

Aku selalu menang dalam bermain permainan strategi, dimana kekuatan pikiran menjadi modal utamanya. Itu alasannya aku kuliah akutansi dan sekarang bekerja sebagai akuntan disebuah perusahaan multinasional.

Aku sangat lelah hari ini. Aku harus pergi kekamar.
Hah?
Kamarku berubah menjadi sebuah ruang baca.
Sejak kapan ruangan yang dari dulu aku pakai tidur, sekarang menjadi ruang baca?

1. Kosong

Tok tok tok

Aku mengetuk pintu berkali-kali.

“Ma….”, panggilku dari luar rumah.

Tok tok tok

Aku mengetuk kembali.

“Ma…”

Kenapa Mama tidak menyahut atau membukakan pintu untukku?.
Tak biasanya Mama pergi saat aku pulang kerja.

Aku mengangkat hp dan mulai menelepon rumah.
Mama sudah sangat tua jadi ia tak biasa menggunakan HP.

Kring…. Kriiing….

Terdengar suara dering telpon hingga keluar rumah.
Berkali-kali telepon berdering hingga putus.
Aku mencoba menelepon rumah kembali.

Hampir 30 menit aku berdiri diluar.
Mama tidak mungkin tidak ada dirumah.
Dia sudah cukup tua untuk berjalan sendiri.

Aku kembali mengetuk pintu rumah.
Tapi kali ini dengan sangat keras dan memanggil-manggil Mama berkali-kali.

Aku panik.

Aku berlari ke setiap jendela dan mengetuknya sambil memanggil Mama.
Tak ada jawaban.

Mama kemana?
Apa yang terjadi?

Rumah berlantai dua tempat dimana aku dibesarkan, kini terlihat asing.
Rumah tempat aku, kakakku, dan adikku bermain kini telah usang.
Ayah kini telah pergi meninggalkan kami.
Hanya tinggal aku dan Mama yang tinggal dirumah besar ini berdua.

Mama tak mungkin meninggalkanku.
Mama kemana?.

Aku berteriak berkali-kali. Mungkin Mama ada dilantai 2 jadi dia tidak mendengarku.

Aku mundur dan berteriak kearah jendela lantai 2.
“Maaaa….”
“Mamaaaa…..”

“Mita”

Seorang wanita mengejutkanku dengan tiba-tiba memanggilku.
Aku menoleh kearahnya.

Wanita itu berdiri dibalik tembok yang memisahkan rumahku dan dia.
Wanita yang terlihat sekitar 30-an itu, melihatku dengan bingung.

“Mita, kenapa kamu berteriak-teriak?”, tanya wanita itu.

“Tante, melihat Mama keluar?”, tanyaku tanpa membuang waktu.

Ia terlihat heran, “Mama?”

Aku mengangguk dengan pasti.

Ia terlihat semakin bingung dan menjawab dengan canggung.
“Kamukan tinggal sendiri”