2. Keluarga

Aku bingung dan membuka tas.
Sebuah gantungan kunci yang biasa untuk kunci rumah berada dalam tasku.
Bingung dan kacau yang kurasakan.

Aku tinggal seorang diri?
Mengapa aku baru menyadarinya?

Aku memasuki rumah dengan seribu pertanyaan.

Kosong yang kurasa sekarang.
Bagaimana rasanya tinggal sendiri?
Apa yang kulakukan jika sendiri?
Sejak kapan aku tinggal sendiri?

Matahari yang telah meninggalkan hari ini, membuat rumah yang baru saja aku buka pintunya, terlihat begitu menyeramkan.

Aku memasuki dapur dan mulai melihat sekelilingku.

Kapan aku bisa masak?
Terakhir kuingat, aku hanya membantu Mama memotong-potong wortel.
Beberapa resep masakan tertempel dipintu-pintu lemari gatung.
Siapa yang menempelkannya?
Akhirnya aku memesan pizza.
Tapi, aku sendiri tak bisa menghabiskannya.
Aku meletakkan sisa pizza ke kulkas.

Apa itu?
Sebuah tempat makan yang berisi beberapa pao.
Siapa yang menarunya?
Mungkin Mama, karena Mama tau aku suka pao.

Aku membuka album-album lama yang ada dilemari kaca ruang keluarga.

Senangnya bisa melihat foto kita bersama-sama dirumah ini.
Papaku seorang polisi, ia sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Ketika aku masih kuliah ditahun ke 2.
Mama seorang ibu rumah tangga yang begitu cekatan, kuat, dan disiplin.
Adikku mengikuti jejak papa menjadi seorang polisi. Meskipun kini ia jarang pulang karena sedang pelatihan disuatu tempat terpengecil yang dirahasiakan. Tapi kadang ia masih mengirimkan email.
Sedangkan aku, satu-satunya anak yang tak bisa menjadi polisi. Aku sering sekali dibully saat sekolah dan saudara dan saudariku yang pasti menolong dan menyemangatiku. Papa selalu bilang,
“Untuk menyelamatkan seseorang belum tentu harus dengan kekuatan fisik, tapi juga bisa dengan kekuatan pikiran”

Aku selalu menang dalam bermain permainan strategi, dimana kekuatan pikiran menjadi modal utamanya. Itu alasannya aku kuliah akutansi dan sekarang bekerja sebagai akuntan disebuah perusahaan multinasional.

Aku sangat lelah hari ini. Aku harus pergi kekamar.
Hah?
Kamarku berubah menjadi sebuah ruang baca.
Sejak kapan ruangan yang dari dulu aku pakai tidur, sekarang menjadi ruang baca?