4. Mama

4 Desember 2013
Pagi ini aku menemukan Mama tak memanggilku. Mama hanya diam dan duduk diruang tamu seperti yang biasa Mama lakukan saat menunggu Papa. Aku sebal ketika Mama kembali ke kondisi depresi karena kehilangan Papa. Mama tak seharusnya begini. Akupun juga sedih. Tolong, jangan menyusahkanku.

11 Desember 2013
Mama membuatku tak bisa berangkat kerja hari ini. Ia terus-terusan menangis dan memanggil-manggil Papa. Aku tak tau harus menghubungi siapa. Sanak-saudara berada jauh dari rumah dan Nara masih dinas.

15 Desember 2013
Lagi-lagi ia menangis dan memecahkan barang-barang. Mama tolong sudahi ini, aku lelah. Akupun juga sedih kehilangan Papa.

16 Desember 2013
Nara menelponku. Aku tak kuasa lagi.
Akhirnya aku menceritakannya apa yang terjadi.
Dan mungkin inilah jalan satu-satunya yang harus kutempuh.
Semoga aku kuat.

20 Desember 2013
Aku membawa Mama ke Rumah Sakit Jiwa. Ini pilihan yang berat. Aku dan Nara juga sebenarnya tidak menginginkan ini. Mama, Selamat tinggal. Semoga Mama senang disana.

21 Desember 2013
Akhirnya setelah hampir 1 minggu terpaksa ambil cuti, aku bisa kerja lagi. Suasana rumah sekarang sudah mulai tenang. Aku bisa tidur nyenyak dan tak mendengar Mama menangis atau melempar barang-barang ditengah malam.

24 Desember 2013
Aku kedatangan tetangga baru. Ia orang yang begitu baik dan ramah. Bu Mila namanya. Mirip namaku Mita dan Mila. 🙂
Aku senang ngobrol bersamanya. Aku menceritakan semuanya dengannya. Meskipun baru bertemu tapi aku merasa sudah mengenalnya sejak lama. Aku akan berbagi banyak cerita padanya.

31 Desember 2013
Akhir tahun ini, aku menghabiskan waktu di rumah Bu Mila. Senangnya bersamanya menyambut tahun baru. Setiap hari bersamanya tidak membuatku merasa bosan. Ini tidak seperti biasanya. Bu Mila benar-benar menyenangkan. Aku akan kesana setiap hari dan cerita banyak hal.