Surat

Hujan membasahi kota ditengah bulan Februari. Aku menapaki jalan setapak menuju rumah. Dinginnya hari terasa menusuk kulitku meski aku terlindungi jas hujan. Perjalanan kerumah menjadi terasa sangat jauh untuk hari ini. Aku menghela napas dalam-dalam. Setelah keluar dari kepolisian, aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku memejamkan mata dan berpikir sejenak tentang rencanaku. Aku akan tetap pada tekadku.

Kantong berkas yang kubawa kini sudah hampir basah semua. Aku langsung mengeluarkan semua isi berkas-berkas itu diatas meja kerjaku. Rumah kini sudah tidak hangat lagi. Kekosongan hari-hariku telah membekukan semangatku untuk merapikan rumah. Kupilih satu persatu surat yang masih belum basah. Malam gelap dengan hujan dan petir, menemaniku membaca berkas- berkas kasus yang belum selesai yang ku ambil dari kepolisian.

Aku memang sudah tidak bekerja dikepolisian, namun aku masih ingin menyelesaikan kasus- kasus yang biasa kulakukan dikepolisian. Aku Amanda Ataris, mantan anggota penyidik dikepolisian. Sekarang, aku memutuskan menjadi seorang detektif swasta. Namun, baru kusadari menjadi detektif swasta tidaklah mudah, apalagi aku hanya baru menyelesaikan sedikit kasus saat masih menjadi anggota penyidik. Aku belum memiliki portofolio yang bagus untuk mendongkrak namaku sebagai detektif. Aku menghela napas panjang dan merebahkan badanku diatas tumpukan kertas-kertas. Aku membiarkan jiwaku terbang bersama lelah dan harapan.

Sinar matahari yang menerobos masuk dari kisi-kisi jendela, menyadarkanku dari lelapku. Menatap dengan kosong, aku berdiri untuk memulai hariku. Secangkir kopi hangat sepertinya cukup untuk membangunkan syaraf-syarafku. Sambil menyeruput kopi hangatku, aku berjalan mengambil surat-surat yang datang dikotak surat yang berada didepan rumah. Jalanan masih terlihat basah karena hujan kemarin. Aku mendapat beberapa surat, namun surat dari bibi Murti yang paling menarik perhatianku. Aku membawa masuk semua surat-surat itu dan membuka surat dari bibi Murti diatas meja makan.

Apa yang membuat bibi Murti, yang mengabdikan seluruh hidupnya menjadi pengurus panti asuhan dipelosok Sulawasi Selatan ini, menulis surat untukku? Sudah kira-kira 2 tahun aku tak mendapat kabar darinya dan juga sudah 11 tahun aku tak pernah berjumpa dengannya. Ia pasti tampak jauh berbeda sekarang.

Untuk Amanda tersayang,

Apa kabarmu disana? Sungguh sedih mendengar kondisimu sekarang dari Ibumu. Bibi harap kamu cepat mendapatkan tempat yang lebih baik. Sudah sangat lama kita tidak berjumpa, maukah kamu mengunjungi Bibi? Ada sebuah kasus dan Bibi ingin kamu memecahkannya.

Mungkin ini memang kasus kecil dan tak ada yang mempedulikannya. Tapi ini sangat mengganggu Bibi. Jadi, alangkah senangnya jika kamu bisa datang dan menyelesaikan atau hanya sekedar berkunjung untuk menemui anak-anak dipanti.

Terima kasih banyak. Dari Bibi Murti.

Surat yang begitu singkat dari Bibi Murti mengganggu pikiranku. Apa yang terjadi dipanti asuhan itu? Penindasan? Apakah anak-anak panti asuhan suka menindas sesama anak yatim-piatu? Ataukah masalah yang dihadapi para pengurus panti?

Aku segera menghidupkan laptopku dan mulai mencari berita tentang Panti Asuhan Hidayah di Sulawesi Selatan. Tak banyak media yang mengekspose Panti Asuhan Hidayah. Aku harus mencari cukup lama hingga akhirnya menemukan sebuah artikel yang membahas Panti asuhan bibiku. Sebuah kecelakaan yang membuat seorang anak laki-laki dipanti itu tersetrum hingga meninggal dunia. Pihak kepolisian menyatakan kalau kasus itu murni kecelakaan.

Aku berpikir sejenak sambil menyeruput kopiku kembali. Apakah kecelakaan ini yang mengganggu pikiran Bibi Murti. Mengambil amplop surat dari Bibiku dan mencari alamatnya. Segera aku memesan tiket ke Sulawesi Selatan dan mencari transportasi darat ke sebuah kota kecil di Kabupaten Luwu Timur yang terkenal dengan ke indahan danau Matano itu. Jika memang aku tidak mendapatkan kasus disana, mungkin aku bisa menjernihkan pikiran sejenak dari kekosongan hariku sebagai pengangguran ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *