Jomi

Aku berjalan menemui Bibi Murti untuk mengetahui semua tentang Pak Jomi, tapi aku tidak bisa menemukan dimana ia berada. Aku gagal menemukan 8 anak yang menyelam bersama Akbar dan Randi. Sekarang aku harus menemukan dimana pak Jomi tinggal. Aku sudah berkeliling mencari Bibi Murti tapi tetap tidak bisa menemukannya. Aku harus mencari tau tentang Pak Jomi dari orang yang mengenalnya dari kecil. Terlintas dikepalaku untuk menanyakannya ke Bu Andi.

Aku langsung bergegas menemui Bu Andi diruangannya. Aku mengetuk pintu ruangannya dan Bu Andipun mempersilahkan aku masuk. Aku memberitahu maksud tujuan dari kedatanganku. Mendadak ia pun jadi marah dan menghardikku untuk keluar ruangan. Aku terkejut dan tak mengerti apa yang salah. Aku menarik napas dalam-dalam setelah diluar ruangan. Si kecil Mawah sudah berdiri di dekatku.

Aku yang terkejut langsung menyapanya dan bertanya, “Hai, sedang apa disini?”.

“Aku ingin bicara dengan Bu Andi”, katanya dengan muka sedih. Ia memegang salah satu sepatunya sedangkan yang satu lagi masih terpasang dikakinya. Rambutnya sudah berantakan dan ada beberapa luka lecet yang masih baru di sikunya.

“Apa yang terjadi?”, tanyaku sambil memegang pundaknya.

Ia menunduk dan tak berkata apa-apa. Mawah hanya menangis dan meninggalkanku. Ia langsung membuka pintu ruangan Bu Andi masuk kedalamnya tanpa menjawab pertanyaanku. Apa yang telah terjadi?

Aku yakin ini sudah hampir waktunya istirahat siang selesai dan murid harus kembali kekelas. Aku berjalan dengan cepat menuju kelas Mawah. Aku memanggil salah satu murid yang akan masuk kedalam kelas dan menanyakannya tentang Mawah. Namun, ia tak ada yang tau apa yang terjadi. Dan jawaban tak tau juga diberikan kepada beberapa anak lain yang kutanyakan.

Akhirnya aku bertemu Riri dan menanyakan soal ini padanya.

“Dia memang begitu. Suka memberikan pernyataan-pernyataan aneh yang tak masuk akal. Jadi tak heran jika banyak orang yang menjahilinya hingga keterlaluan. Mawah adalah tipe yang tak bisa menjaga perkataannya. Karena itu para pengurus panti menjauhkannya dari kami agar dia tidak memberikan dampak negatif pada kami”, jelas Riri dengan cepat karena sudah waktunya masuk kedalam kelas.

Mungkin ini bukan waktuku yang tepat untuk mengetahui tentang Mawah dan alasan mengapa ia berbeda dengan anak yang lain. Aku harus kembali ke tujuan awal, mengetahui tentang Pak Jomi.

Aku pergi keluar dari panti menuju rumah-rumah penduduk. Dimana gubuk yang digunakan sebagai tempat tinggal Pak Jomi? Aku berkeliling dan mencari gubuk yang kira-kira mungkin sebagai tempat tinggal Pak Jomi.

Hampir 3 jam aku berkeliling tapi gubuk yang kutemui hanyalah sebuah gudang atau gubuk yang sudah tidak terurus lagi. Kemana lagi aku harus mencari? Sawah hijau yang terkena sinar orange matahari sore menemani perjalananku kembali ke panti. Aku sudah menyerah mencari keberadaan pak Jomi. Mungkin saja dia telah meninggal karena stress dikurung ditempat kecil seperti itu. Diikat dan dibiarkan sendiri tanpa hiburan selama berhari-hari.

“Ayo, ayo, ayo!”, terdengar suara wanita paruh baya dari kejauhan. Ia berjalan sambil memegang tali yang diikat ke pinggang seorang laki-laki yang lebih tua darinya. Aku berhenti dan mengamati mereka. Tak jauh dari sana terdapat sebuah gubuk kecil. Sontak aku langsung berlari mengejar mereka.

“Permisi”, sapaku dengan ramah. Wanita tua itu berhenti dan melihat kearahku. Namun laki-laki dibelakangnya tetap pada posisinya dan masih berjalan perlahan.

“Tunggu, sebentar”, kata wanita itu ke laki-laki yang tali pengikatnya sudah sedikit ditarik. Laki-laki tua itu berbalik dan kepalanya agak sedikit menunduk. Ia terlihat berbeda dari orang pada umumnya, mungkinkah dia Pak Jomi?

“Saya mau tanya, apakah laki-laki yang dibelakang itu adalah Pak Jomi?”, tanyaku dengan sopan sambil menunjuk laki-laki yang dari tadi hanya diam saja tanpa melihatku.

Wanita itu menoleh ke laki-laki yang dibelakangnya itu dan berkata, “Iya, benar. Dia Pak Jomi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *