Gubuk Kecil

Diterangi oleh sebuah lampu kecil, Bu Marsih melilitkan sebuah rantai dikaki Pak Jomi dan menggemboknya. Dengan telaten Bu Marsih menyuruh Pak Jomi tidur dan menyelimutinya. Tak ada ekspresi ketakutan atau menolak dari Pak Jomi. Ia menuruti apa yang dikatakan Bu Marsih dan menutup matanya.

Aku dan Bu Marsih meninggalkan Pak Jomi dan mengunci pintu gubuknya dari luar. Aku hanya melihat dengan bimbang. Aku tak bisa mencurigai Pak Jomi mampu melakukan hal jahat tanpa suruhan orang lain. Ia terlihat sangat menuruti apa yang disuruh oleh Bu Marsih. Mungkin saja ada seseorang yang sengaja memakai kepolosan Pak Jomi untuk melakukan kejahatan.

“Bu, siapa saja yang bisa mengajak Pak Jomi keluar?”, tanyaku kepada bu Marsih.

“Siapa saja boleh”, jawab Bu Marsih sambil menggantungkan kunci di sebuah kotak yang tak jauh dari pintu. Aku terkejut. Siapa saja bisa mengeluarkan dia kapan saja. Lalu, mengapa tak ada yang
mengeluarkannya?

“Mengapa pak Jomi dibiarkan tinggal disana?”, tanyaku.

“Karena tak ada pilihan lain.”

“Mengapa? Bukankah membiarkan ia tinggal disana itu tidak baik? Dia diperlakukan sangat tidak layak.”

“Nak, darimana kamu berasal?”

“Jakarta.”

“Ooo… Pantas saja cara berpikirmu berbeda. Kau tidak tau apa-apa tentang desa ini”

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana orang-orang di desa ini bisa berdiam diri melihat orang sepolos Pak Jomi tinggal di tempat seperti itu, di ikat lagi kakinya. Bagaimana bisa?

Aku berjalan kembali ke panti. Tanpa kuduga bibiku sudah berdiri didepan gerbang. Aku terkejut melihatnya. Raut muka yang cemas dan khawatir tersirat dengan jelas. Aku menarik napas dalam-dalam dan mendekatinya. Aku tak tau apa yang harus aku katakan dan ia hanya menatapku.

“Sore, bibi”, sapaku dengan bingung.

Ia menarik napas dan memejamkan matanya. Kemudian ia berkata, “Bibi sangat yakin ada yang tak beres disini dan sangat berharap kau dapat membantu.” Aku mengangguk. Ia menatapku dengan kesal dan kembali berkata, “Bu Andi sangat kesal kepadamu. Tidak ada perkembangan, tidak pernah memberikan laporan, dan Bibi juga tidak melihat adanya titik terang disini. Sudah lebih dari 1 minggu kau ada disini dan Bibi masih ingin kau menyelesaikan kasus ini. Kasus Randi.” Bibi memberikan penekanan pada nama Randi yang membuatku ingin memotongnya, namun gagal karena ia sudah kembali berbicara.

“Bukan kasus yang lainnya. Cukup Randi. RANDI. Tentang urusan lain, kau bisa mengabaikannya”.

Aku tak mengerti, benar-benar tidak mengerti. Kenapa hanya kasus Randi? Bagaimana dengan kasus Akbar? Bukankah keduanya berkaitan. Aku berjalan dengan kesal kearah lorong lantai 3 bangunan dua.

Brak!

Tanpa kusadari aku berjalan dengan melihat kebawah dan menabrak seseorang didepanku. Kami berdua terjatuh.

“Oh, Bu Atikah! Maafkan aku”, kataku sambil berdiri dengan cepat dan membantunya berdiri.

“Tidak apa-apa”, jawabnya dengan singkat dan segera meninggalkanku.

Ibu Atikah adalah guru pelajaran kewarganegaraan. Beliau adalah guru yang sangat cantik dan berkharisma. Aku sendiri sangat mengaguminya. Namun aku belum pernah bicara dengannya. Andai suatu hari nanti aku bisa bicara dengannya.

Aku memandangi punggungnya hingga menghilang dari pandanganku. Jalan yang tegap dan suara langkah kaki yang begitu cepat dan berirama, mengalihkan tujuanku. Aku tersadar dari lamunanku. Apa yang sedang aku lakukan?

Aku berbalik badan dan masuk ke kamar tidur anak perempuan. Kamar tidur anak perempuan lebih baik dari pada anak laki-laki. Tak banyak yang harus aku bersihkan atau aku rapikan.

Aku mengamati baik-baik setiap kasur di ruangan itu. Hampir semua anak suka dengan boneka. Mereka menuliskan nama mereka masing-masing didinding untuk menandakan tempat tidur mereka. Begitu lucu dan beragam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *