Suatu Malam

Aku menuliskan di buku catatanku semua hal yang aku tau tentang Pak Jomi dan hal-hal yang berkaitan dengan kasus Randi dan Akbar. Memang tidak terlihat ada persamaan diantara keduanya.

Kasus Randi

Dihukum membersikan loteng karena tidak membuat PR

Meninggal : terjatuh dari Loteng

Dugaan: Bunuh diri

Alasan:

Hukuman dari Bu Nur?

Permasalahan dengan Riri?

 

Kasus Akbar

Hujan badai

Meninggal : tersengat listrik

Dugaan: Kelalaian Pak Jomi?

Alasan: belum diketahui?

Aku menghembuskan napas panjang sebelum menutup buku catatanku. Mungkin Bibi benar. Keduanya memang tak berkaitan. Mungkin aku harus lebih fokus pada kasus Randi. Mengapa dia bunuh diri.

Pagi ini aku mengepel teras bangunan utama dengan tidak bersemangat. Entah mengapa pagi ini terdengar keramaian dari lantai 3 bangunan dua. Aku melihat ada beberapa anak perempuan yang turun tangga sambil berlari. Keributan dari lantai 3 membuat anak laki-laki yang berada dilantai 2, satu-persatu menghidupkan lampu.

“Huft… mengapa mereka ini pagi-pagi”, gumamku sambil berjalan menuju bangunan dua.

Aku baru saja sampai ke lantai 2, saat Bu Rina sambil berlari menabrakku. Ia tetap saja berlari ke lantai 3 tanpa mempedulikan aku yang terjatuh karenanya. Dibelakangnya beberapa anak yang kulihat sedari tadi mengikutinya. Aku memberhentikan salah satu anak yang berlari pelan karena kelelahan.

“Tunggu, ada apa?”, tanyaku padanya.

“Mika terjatuh dari tempat tidurnya dan tak bergerak sama sekali”, jawabnya sambil tersengal-sengal. “Tubuhnya dingin dan kaku. Kita semua membangunkannya namun ia tetap tidak bangun”, lanjutnya. Meski ia terlihat masih kelelahan tapi ia menarik tanganku untuk mengikutinya berlari kembali.

Aku memasuki ruangan itu. Beberapa anak sedang menangis dipojok dan anak yang lebih tua menenangkan mereka. Aku melihat salah satu anak yang menangis itu adalah Riri. Dan beberapa dari mereka sedang berkumpul disalah satu ranjang bersama Bu Rina yang sudah berada di sana.

Muka Bu Rina begitu pucat. Aku mendekatinya dan melihat Mika sudah ditutupi banyak selimut. Mukanya begitu pucat, berbaring memejamkan mata ditengah keributan tanpa terusik sama sekali.

Tidak, tidak, tidak. Cukup hanya melihatnya kita sudah tau ia tidak tidur ataupun sakit. Ia sudah meninggal. Ia meninggal!

Kini semua murid sudah berkumpul di ruang makan bangunan utama. Aku membuatkan mereka susu hangat. Beberapa anak yang masih kecil tergoncang dan masih menangis. Aku tak tau jika beberapa anak disini pernah kehilangan orang tuanya didepan matanya. Kematian adalah yang sangat menakutkan baginya.

Aku melihat kearah Bibi yang sedang sibuk menenangkan anak-anak bersama para pengurus panti yang lain. Guru-guru sudah datang dan ikut menenangkan mereka. Beberapa dari mereka terlihat pucat.

Aku hanya bisa melihat para anggota polisi yang sedang sibuk bekerja. Mengingatkan aku ketika masih bekerja di kepolisian. Kini aku hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan di ruangan ini.

Aku berjalan berkeliling ruangan utama, mengamati satu-persatu wajah anak-anak dan para pengurus panti. Aku yakin ini tidak dilakukan orang luar. Karena Bu Rina pasti mengunci semua pintu. Tak ada satu orangpun yang bisa masuk tanpa sepengetahuan Bu Rina. Aku yakin bukan Pak Jomi. Ia tak mungkin bisa melakukannya.

Aku berlari meninggalkan panti menuju gubuk tempat tinggal Pak Jomi. Terlihat Bu Marsih tak jauh dari sana.

“Selamat Pagi, Bu Marsih!”, sapaku masih terengah-engah.

“Pak Jomi menghilang!”, sahutnya dengan kebingungan.

Tidak mungkin!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *