Posisi

Teriknya matahari di Makasar membakar kulitku. Hiruk-pikuk orang-orang membuatku bingung menemukan sopir yang kusewa untuk pergi ke panti. Hampir 30 menit aku berlalu-lalang di bandara menanyakan satu persatu orang yang kukira adalah sopir yang kusewa. Namun tidak kutemui juga. Berkali-kali aku menelpon nomor sopir itu, namun tidak ada jawaban. Aku terduduk lelah di pojokan bandara. Ramainya bandara membuatku tak menemukan kursi kosong. Berkali-kali aku menghela napas dan menengok kekiri dan kekanan. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaannya.

Setelah beberapa saat aku duduk disana, tiba-tiba seorang pemuda yang kira-kira berumur 19 tahun mendekatiku.

“Mau kemana kak?”, tanyanya dengan ramah.

“Ke Luwu, danau Matano”, jawabku dengan singkat.

“Boleh, boleh, saya bisa antarkan kesana”, aku tak bisa menolaknya dan akhirnya ikut dengan pemuda itu. Memang dia memberikan harga sewa yang lebih mahal tapi setidaknya aku bisa segera meninggalkan bandara.

Ternyata perjalanan menuju danau Matano tak seindah yang kubayangkan. Jauh, berkelok, dengan kondisi jalanan yang tidak begitu mulus. 12 jam lebih telah terlalui, aku berdiri dan meregangkan otot-ototku. Aku tak akan lagi melalui jalur darat dari Makassar ke danau Matano.

Pegal dan lelahku terbayar sudah, ketika aku melihat sinar matahari pagi menyinari birunya air danau. Aku menarik napas dalam-dalam. Segar dan bersihnya udara disini membersihkan jenuhku setelah berjam-jam di dalam mobil.

Aku menggetuk pintu Panti Asuhan Hidayah. Panti asuhan ini adalah sebuah panti asuhan yang paling besar di kota ini. Terdiri dari 3 bangunan dan halaman yang cukup besar. Seorang wanita yang mengenakan kemeja putih membukakan pintu untukku.

Aku tersenyum dan bertanya, “Pagi, saya Amanda keponakan bibi Murti”.

“Oh! Mari masuk”, jawabnya dengan gugup.

Jam 6 pagi mungkin masih terlalu pagi untuk seseorang menerima tamu. Wanita itu membawaku masuk kesebuah ruang makan yang sangat besar, kira-kira bisa menampung sekitar hampir 100 orang.

“Mohon ditunggu sebentar disini. Sarapan akan mulai 30 menit lagi”, kata wanita itu dengan ramah dan kemudian ia meninggalkanku sendiri dengan koperku. Saat aku sedang memikirkan apa yang terjadi di panti asuhan ini, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil masuk dan melihatku dengan bingung. Aku tersenyum namun ia tidak mempedulikannya dan langsung pergi ke meja yang jauh dariku. Lalu dibelakangnya berdatangan satu persatu anak-anak panti yang lain. Namun lagi-lagi, tak ada yang membalas senyum ramahku.

Apa yang terjadi pada anak-anak ini? Apakah tampangku begitu mencurigakan setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan? Apakah anak-anak ini takut untuk diadopsi? Apakah kasus yang bibi Murti cerita menggangu para anak-anak ini?

Seorang gadis kecil yang kira-kira berumur 8-10 tahun duduk di satu meja denganku. Aku tersenyum padanya dan ia hanya tersenyum simpul.

“Halo!”, sapaku yang mencoba memulai pembicaraan dengan gadis kecil didepanku. Dan lagi-lagi ia hanya memberikanku senyum simpul. “Namanya siapa?”, aku mencoba lagi.

“Mawah”, jawabnya singkat.

“Wah! Namanya bagus sekali. Aku Amanda”, kataku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ia bersalaman denganku tanpa tersenyum sama sekali. Ini adalah perkenalan terdingin yang pernah aku alami dengan anak kecil. Untung saja bibi Murti dan para pengurus panti datang, duduk, dan menyantap sarapan denganku.

Setelah sarapan, bibi mengajakku kedalam sebuah ruangan yang cukup besar dan ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di sebuah meja belajar yang besar. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalasnya dengan hangat, sangat jauh berbeda dengan Mawah.

“Halo! Apakah ia Amanda yang kau ceritakan, Mur?”, tanya wanita paruh baya itu kepada bibi Murti.

“Iya, benar. Ini Amanda”, jawab bibi Murti sambil menarik salah satu kursi didepan meja wanita paruh baya itu, “Ini ibu Andi, kepala panti disini”.

“Halo!”, sapaku sambil duduk.

“Bagaimana perjalanmu kesini?”, tanya ibu Andi.

“Sungguh sangat melelahkan. Saya tak menyangka jika Luwu berada sangat jauh dari Makassar”.

“Wah… Itu pasti menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan olehmu, ya? Saya sungguh jadi tak enak. Jika waktu dan cuaca mendukung, saya akan antarkan kamu berjalan-jalan menikmati indah nya danau Matano”.

“Oh, saya akan merasa sangat senang sekali. Terima kasih”.

Bibi Murti menjelaskan kedatanganku kemari kepada ibu Andi. Tersirat tatapan tidak setuju dari ibu Andi, jika kasus itu dipermasalahkan lagi. Namun, lagi-lagi bibi Murti meyakinkannya dan akhirnya ibu Andi menyetujuinya.

“Saya memperbolehkan ia berada disini dan menyelidiki kecelakaan itu tapi dengan satu syarat”, kata ibu Andi dengan tegas, “Ia harus menyamar menjadi orang yang akan membantu kita merawat kebersihan panti ini dan mengawasi anak-anak”.

Aku terkejut. Meski ibu Andi tidak mengatakan secara langsung, tapi aku yakin betul jika yang ia maksudkan adalah aku harus menjadi pembantu disini. Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah perjalanan yang jauh dan melelahkan, kini harus mengurus panti besar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *