Kasus 1

Pagi buta, aku bergegas membersihkan ruang makan dan membersihkan lorong utama. Belum hilang letih dari perjalanan panjangku, kini ditambah lagi dengan kegiatan bersih-bersih disini. Aku menggerutu sendiri sambil tetap mengepel lantai lorong utama. Satu-persatu anak yang sudah bangun dan bersih datang. Aku tersenyum pada mereka. Namun, mereka masih takut-takut untuk menerima keramahanku. Rasa letihku menjadi bertambah.

Dari pagi hingga siang hari aku bekerja, namun pekerjaan ini tak ada habisnya. Bagaimana panti asuhan sebesar ini tapi tidak memiliki personel yang cukup untuk merawatnya. Aku beristirahat sebentar di sebuah bangku taman yang tak jauh dari gedung bangunan ke-2. Aku mengamati bangunan-bangunan panti satu-persatu.

Bangunan utama adalah yang terletak di tengah-tengah dimana bangunan ini adalah tempat berkumpul para anak-anak dan pengurus panti untuk makan atau hanya melakukan pertemuan. Bangunan berlantai satu ini sepertinya adalah bangunan yang paling tua dari yang lain. Terlihat dari kusen-kusen pintu dan jendela yang sudah lusuh, serta retakan di dinding-dinding. Gerbang masuk yang tepat berada di lurus didepan bangunan ini, mungkin ini alasannya mengapa bangunan ini disebut sebagai bangunan utama.

Bangunan kedua adalah bangunan yang berada di sebelah kanan bangunan utama jika dilihat dari gerbang masuk. Di bangunan ini adalah tempat semua anak-anak dan pengurus tidur. Anak-anak perempuan berada di lantai 3 sedangkan anak-anak laki-laki berada di lantai 2, dan para pengurus berada di lantai 1. Di lantai 1 ini juga terdapat ruangan besar untuk anak-anak berkumpul dan mengerjakan PR atau hanya untuk bersantai. Bangunan ini adalah bangunan yang paling bagus menurutku dibanding bangunan yang lain. Karena hanya bangunan ini yang memiliki teras di setiap lantainya dan juga disediakan banyak kursi.

Bangunan yang paling baru yang terletak di sebelah kiri bangunan utama adalah bangunan untuk belajar. Di tempat ini anak-anak belajar bersama guru-guru yang beberapa diantaranya adalah pengurus dan ada beberapa guru dari luar panti. Gedung yang juga berlantai 3 ini terlihat tidak bersahabat, mungkin karena kebanyakan anak-anak yang keluar dari bangunan ini tidak terlihat bahagia. Di siang ini semua anak-anak berada di gedung ini. Terkadang terdengar suara mereka sedang belajar.

Aku berdiri dan kembali mengepel. Kini, aku akan mengepel teras lantai 1 di bangunan 2. Aku menyingkirkan kursi-kursi ke pinggir bagunan agar lebih mudah untuk membersihkan teras yang besar ini. Aku menghela napas sejenak. Kursi-kursi yang terbuat dari kayu ini ternyata cukup berat. Aku melihat sebuah batu yang ditaburi bunga-bunga tak jauh dari teras. Aku ingat itu adalah lokasi jatuhnya korban pertama.

Aku mendekati batu itu. Sepertinya batu itu bukan berasal dari sana, mungkin ada yang sengaja meletakkannya disana sebagai tanda. Rumput-rumput liar sudah mulai tumbuh sepertinya kejadian itu sudah berlangsung cukup lama, namun masih ada yang mengingatnya dan tetap menaburkan bunga di atas batu itu. Aku menyimpan rasa ingin tahuku sampai bertemu dengan bibi Murti.

Setelah makan malam, aku dan bibi Murti berkumpul di teras lantai 1 gedung 2. Kami duduk menghadap batu yang ditaburi bunga yang aku temukan tadi siang. Ditemani secangkir teh hangat bibi Murti mulai menceritakan korban pertama padaku.

“Ditempat itu Randi ditemukan meninggal. Ia terjatuh dari jendela loteng”, kata bibi Murti mengenang peristiwa itu.

“Loteng?”, tanyaku heran. Aku tak pernah melihat ada ruangan di loteng.

“Iya ada pintu kecil yang menuju tangga di lantai 3. Loteng itu hanya gudang biasa, jadi tak ada yang pernah menguncinya hingga hal itu terjadi”.

“Apa yang ada disana?”

“Macam-macam, kami semua menyimpan barang-barang yang sudah tak terpakai disana”, bibi Murti menyeruput tehnya. “Mungkin kau bisa kesana jika mau. Bibi bisa memberikan kuncinya besok”, kata bibi Murti. Mungkin kalau kesana aku bisa mengetahui sesuatu.

“Bibi, aku tak bisa menemukan artikel atau…. Sesuatu seperti berita tentang kecelakaan Randi. Apakah mungkin bibi bisa memberikanku sesuatu?”, tanyaku yang mulai ragu dengan ekspresi bibi.

“Tak ada”, jawabnya singkat. Aku hanya terdiam sambil menunduk. Kami terdiam sejenak. Aku tak tahu bagaimana mencari tahu tentang kasus Randi jika bibi Murti tidak membantuku.

Bibi Murti meletakkan cangkirnya dan bergegas berdiri. Aku hanya bisa menatapnya dalam diam ketika ia berdiri. “Jika kau telah selesai minum, tolong bereskan semuanya. Sudah waktunya tidur dan anak-anak juga harus diingatkan untuk tidur”, kata bibi Murti sambil meninggalkanku sendiri di teras yang cukup besar.

Aku menghela napas. Ketika aku ingin membereskan cangkir yang bibi Murti tinggalkan, aku menemukan sepotong kertas yang diselipkan di bawah cangkirnya. Mungkin kertas ini bisa membawaku menguak kasus kecelakaan Randi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *