Loteng

Pagi buta, aku berlari kearah gerbang masuk. Tak jauh dari gerbang ada sebuah gudang kecil yang terbuat dari kayu. Dalam kertas yang bibi Murti tinggalkan semalam tertulis kalau aku harus mencari koran lokal yang menulis tentang kasus Randi. Seperti yang aku duga pintu gudang itu terkunci, untungnya aku sudah mencuri kunci seorang pengurus disini. Semoga ada kunci yang cocok.

Aku mencoba satu-persatu kunci, akhirnya ada satu kunci kecil yang cocok untuk membuka gembok pintu gudang kayu itu. Di dalam gudang itu terdapat banyak tumpukan koran bekas dan beberapa kotak kayu. Gudang itu tak ada lampu, jadi sulit untukku membaca tanggalan di koran-koran disana. Aku harus bolak-balik keluar gudang untuk membaca tanggalan.

3 September 2015 adalah tanggal yang bibi Murti tulis kemarin. Aku harus mundur kira-kira 172 hari untuk menemukan koran dengan tanggal tersebut. Sungguh melegakan karena koran-koran itu diletakkan dengan rapi sesuai tanggal datangnya koran, sehingga aku bisa menemukannya dengan mudah dan menyembunyikannya di dalam jaketku. Aku segera mengunci kembali gudang itu dan meninggalkan jejak kakiku yang basah karena embun pagi.

Aku berlari mengambil pel dan ember, segera bersiap untuk mengepel untuk menghapus jejak langkahku di teras. Pukul 06.00, waktu yang pas sesuai dengan jadwal kerjaku disini. Setelah selesai mengepel, aku segera menyelinap kembali ke lemari bu Rina, seorang pengurus panti yang aku ambil kuncinya. Bu Rina adalah seorang pengurus yang tugasnya menjaga keamanan panti, karenanya ia satu-satunya yang memiliki semua kunci di panti asuhan ini. Jam-jam seperti ini adalah waktu semua pengurus bangun dan siap-siap untuk bekerja. Aku dan para pengurus panti lainnya tidur di satu ruangan besar sama seperti anak-anak panti lain. Bedanya, setiap tempat tidur kami dipisahkan oleh lemari-lemari yang cukup besar.

Aku terkejut setelah menutup pintu lemari bu Rina. Mawah berdiri tak jauh dari lemari bu Rina. “Halo!”, sapaku ramah dengan sedikit gugup. Aku baru ingat kalau Mawah adalah satu-satunya anak yang tidak tidur dengan teman-temannya yang lain melainkan bersama para pengurus. Mereka mengatakan Mawah selalu diganggu dengan teman-teman yang lain karena suka mengigau ketika tidur. Tapi selama 2 malam disini, aku belum pernah mendengarnya mengigau.

Anak perempuan itu hanya melihatku dengan sedikit tersenyum dan meninggalkanku tanpa membalas sapaanku. Ku harap ia tak mengatakan ke bu Rina, jika aku membuka lemarinya tanpa izin. Aku membereskan tempat tidurku dan menemukan sebuah kunci di bawah bantal. Ini pasti kunci loteng yang bibi Murti janjikan untukku. Aku menyembunyikan koran dan kunci itu di bawah tempat tidur. Bergegas aku menuju kamar mandi dan berkumpul dengan para pengurus yang lain.

Pagi ini semua berjalan lancar, Mawah pasti tidak melaporkanku ke bu Rina. Aku kembali ke rutinitasku membersihkan semua sudut-sudut panti yang menurutku ini adalah pekerjaan tiada henti. Aku sengaja melewatkan waktu makan siangku dan bergegas kembali ke kamar untuk mengambil koran dan kunci loteng.

Loteng dipanti ini cukup besar. Ada terdapat banyak rak-rak berisi kardus-kardus yang sudah ditandai. Di loteng ini terdapat 3 jendela, dan jendela yang paling kanan adalah jendela dimana Randi terjatuh. Aku berdiri tepat di jendela itu, terdapat garis kuning yang di tempel menyilang di jendela itu. Terlihat dengan jelas jika semua jendela di loteng sudah di paku dari luar sehingga sudah tidak bisa dibuka lagi.

Jendela itu lebih rendah dariku, aku harus sedikit menunduk untuk mengintip keluar jendela. Mungkin anak yang bernama Randi jauh lebih pendek dariku, sehingga mungkin untuknya berdiri di kusen jendela. Tapi, untuk apa ia berdiri di tempat yang pasti berbahaya?

Aku membalikkan badanku dan melihat sekitarku. Hanya jendela ini yang tidak terhalangi oleh lemari atau kardus-kardus. Tepat dari arah pintu hingga jendela ini terdapat ruang yang cukup luas untuk seseorang berlari dan mendorong Randi hingga jatuh. Karena memang tidak ada alasan lain mengapa ia bisa terjatuh dari jendela.

Terlebih lagi tinggi jendela dari lantai hanya sekitar 40 cm dari lantai. Hampir 25 minggu berlalu setelah Randi terjatuh dan debu-debu sudah menutupi jejak kaki saat peristiwa itu terjadi. Terlalu sulit untuk mencari petunjuk di loteng ini. Aku duduk dipojokan dekat jendela dimana Randi jatuh dan membaca koran yang kubawa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *