Randi

Ia seorang anak laki-laki yang 2 bulan lagi akan berumur 11 tahun, ditemukan terjatuh dari loteng sebuah bagungan tua yang bertingkat 3. Seorang anak laki-laki yang tak pernah mengenal siapa orangtuanya ini dibesarkan di Panti Asuhan Hidayah. Para pengurus panti dan teman-teman panti memanggilnya Randi.

Anak laki-laki yang sangat aktif dan ceria meski terkadang suka membuat onar. Randi adalah anak yang tinggi dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Bu Dinda, guru sejarah, sering memarahinya karena ia suka membolos dan tidak mengerjakan PR. Randi sering sekali mendapat hukuman membersihkan panti. Hampir seluruh bagian panti pernah ia bersihkan.

Kamis, 3 September 2015, Randi membuat ulah kembali dengan tidak membuat PR pada pelajaran Matematika. Ibu Nur menghukum Randi untuk membersihkan loteng di bangunan dua. Tak ada yang mengetahui, jika saat itu adalah hari terakhir mereka untuk melihat Randi. Bu Nur menghukum Randi saat istirahat makan siang sehingga tak ada satupun anak-anak dan pengurus panti di bangunan dua. Hampir semua orang berada di bangunan utama.

Ia ditemukan tergeletak tak bernyawa di halaman belakang bangunan dua dalam posisi telentang. Randi diperkirakan jatuh dengan punggung yang terlebih dahulu menyentuh lantai dan langsung mengalami koma. Hujan deras pada hari itu membuat semua orang tidak menyadari apa yang terjadi pada Randi. Sehingga tubuhnya yang tak berdaya itu berbaring di tengah hujan hingga waktu sekolah berakhir dan semua anak-anak dan pengurus panti pergi ke bangunan dua.

Tubuh Randi ditemukan oleh Bu Rina ketika ia pergi ke teras untuk mengepel cipratan air hujan. Tubuh Randi yang sudah agak kaku karena kedinginan segera langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Namun, semuanya sudah terlambat, ia menghembuskan napas terakhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit.

Dugaan yang paling kuat ketika itu adalah Randi bunuh diri akibat hukuman yang diberikan oleh Bu Mur. Namun tak cukupnya bukti untuk menangkap ibu Mur, membuat dugaan itu diabaikan. Dugaan lain adalah Randi bunuh diri karena ia mempunyai masalah dengan anak-anak panti lain. Sifat jahil dan kasar Randi, terkadang membuat kesal anak-anak panti lain, baik yang sebayanya, lebih muda ataupun yang lebih tua darinya.

Beberapa hari sebelumnya, Randi memiliki masalah dengan beberapa teman baiknya. Ia tak sengaja merusak tanaman bunga yang di rawat oleh Riri. Riri yang marah besar ketika melihat Randi menginjak-injak tanaman bunganya saat mengambil bola yang jatuh ke tengah tanaman bunganya. Namun, Randi tidak meminta maaf atau menunjukkan ekspresi menyesal kepada Riri. Kejadian itu membuat Riri mengajak beberapa teman yang lain untuk memusuhi Randi.

Randi memiliki 6 teman yang selalu bersamanya, mereka adalah Riri, Mika, Ahmad, Doni, Akbar, dan Fahmi. Mereka terkenal karena kekompakan dan kejahilan mereka kepada anak-anak dan pengurus panti. Meski mereka masih berusia 10 – 11 tahun, tapi mereka tidak takut dengan anak yang lebih tua dari mereka. Meski mereka terkenal sebagai anak-anak bandel, tapi Riri dan Doni memiliki prestasi yang sangat bagus di kelas. Sedangkan sisanya termasuk anak yang kurang berprestasi. Dalam pelajaran, Randi biasanya mendapatkan bantuan dari Riri atau Doni.

Peristiwa Randi yang merusak tanaman Riri membuatnya mengajak Mika, Doni, dan Ahmad, serta teman-teman sekelas mereka untuk menjauhi Randi. Randi yang biasanya menyalin PR dari Riri dan Doni, kini harus mendapat hukuman dari Bu Nur dan guru-guru lain. Hanya Fahmi, satu-satunya yang masih mau mendekati Randi.

Guru-guru lain hanya menghukum Randi untuk berdiri di lorong atau hormat ke bendera selama pelajaran berlangsung. Hanya bu Nur yang ketika itu memberikannya hukuman membersihkan loteng selama pelajarannya. Setelah pelajaran bu Nur selesai, Randi tak kunjung kembali ke kelas untuk hadir pada mata pelajaran selanjutnya. Hampir seluruh kelas tidak mempedulikan keberadaan Randi. Bahkan guru-guru yang mengajar pelajaran setelah Bu Nur juga tidak menyadarinya karena Randi memang sering sekali membolos.

Dugaan Randi bunuh diri karena dijauhi teman-temannya menjadi kesimpulan yang menutup kasus kematian Randi. Semua teman-temannya bersedih dan meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan, begitu juga Bu Nur yang turut menyesali ke tidak pekaannya atas apa yang terjadi pada anak didiknya.

Kematian Randi membuat Riri dan 3 teman baik Randi yang lain sangat terpukul. Mereka tidak mengetahui jika semua akan berakhir dengan tragis seperti ini. Setiap hari Riri meletakkan bunga diatas tempat terjatuhnya Randi sebagai tanda penyesalannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *