Riri

Aku termenung sambil menyapu lorong bangunan tiga. Samar-samar terdengar suara guru-guru mengajar diiringi jawaban kompak dari murid-muridnya. Pikiranku jauh melayang tinggi tentang kematian Randi. Masih teringat dibenakku apa yang tertulis di koran tentang kasus Randi.

Apakah karena masalah bersama teman-temannya membuat Randi bunuh diri? Pikiranku tertuju pada posisi kematian Randi. Jika memang ia bunuh diri, apakah posisinya akan telentang? Bukankah akan lebih mudah bunuh diri dengan terjun kearah depan daripada belakang? Mungkinkah ia takut bunuh diri sehingga terjun dari arah belakang? Ataukah ada orang lain yang mendorongnya hingga jatuh?

Aku membayangkan semua kemungkinan terjadi jika seseorang bunuh diri. Terdiam dalam imajinasiku meski sekarang aku sudah melanjutkan pekerjaanku membersihkan teras bangunan dua. Bunga-bunga yang ditabur di atas batu penanda tempat jatuhnya Randi masih terlihat segar. Bunga itu terlihat diambil dari tanaman bunga yang tak jauh dari sana.

Waktu belajar sudah selesai dan hampir seluruh anak-anak panti datang ke bangunan dua. Aku melihat Riri, Mika, Ahmad, Doni, Akbar, dan Fahmi jalan bersama. Mungkinkah aku harus menanyakan mereka satu per satu? Peristiwa itu sudah berlalu cukup lama, apakah mereka masih mengingatnya?

Pikiranku masih melayang jauh hingga aku terbangun terlalu pagi. Subuh aku sudah termenung di teras bangunan dua. Aku bahkan duduk tanpa menghidupkan lampu teras. Dalam kelam, aku yang duduk dipojok ruangan, menatap batu penanda. Tiba-tiba pintu teras terbuka, aku menengok kearahnya. Terlihat seorang gadis kecil keluar dengan sedikit berlari kearah tanaman bunga tanpa menyadari keberadaanku.

Gadis itu memetik beberapa bunga dan mengumpulkannya dikantong bajunya. Ia berlari kecil kearah batu penanda, sekarang aku dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu. Dia Riri, gadis yang ternyata diam-diam selalu mengganti bunga di atas batu penanda itu. Gadis ini menaruh bunga-bunga yang sudah layu ke dalam kantong baju yang satu lagi. Aku berdiri menghampiri gadis itu dan iapun terkejut.

“Pagi”, sapaku.

“Pagi”, jawabnya dengan gugup.

“Mengapa kamu menaruh bunga di atas batu itu?”, tanyaku sambil berjongkok bersamanya di dekat batu penanda.

“Sahabat baikku terjatuh disini”, jawabnya dengan murung. Akupun terdiam. Riri benar-benar menyesal dengan peristiwa yang dialami Randi. Aku mendekatinya dan merangkulnya. Tubuh kecilnya itu bergetar dan butiran air matanya menetes. “Semua ini salahku”, katanya sambil terisak.

“Kenapa?”, tanyaku sambil mengelus pundaknya.

“Aku yang membuat ia terjatuh dari loteng”.

“Maksudmu?”

“Aku menjauhinya. Aku jahat dengannya. Aku yang membuatnya jatuh”, tangisannya makin keras. Aku memeluknya dengan kuat.

“Tidak. Itu semua bukan salahmu”, aku mencoba menenangkannya. “Aku akan mencari tahu mengapa ia terjatuh”, kataku.

Ia melepaskan rangkulanku dan berkata, “Randi terjatuh karena aku!. Tak ada alasan lain, semua itu karena aku!”.

Aku terkejut dan tanpa berfikir panjang langsung berkata, “Apakah kamu memiliki bukti?”. Gadis itu menunduk dan terdiam. Aku bertanya, “Apakah ia menulis surat tentang alasannya jatuh dari loteng?”. Ia masih terdiam dan aku kembali bertanya, “Apakah ia menceritakan sesuatu kepada orang lain tentang masalahnya denganmu?”.

“Dia hanya memegang surat dari ibu kandungnya”, jawabnya sambil masih menunduk.

“Apa isi surat itu?”.

“Surat penyesalan ibu kandung Randi karena menelantarkan Randi. Surat itu ada bersama Randi saat ibu kandungnya meninggalkannya di pinggir jalan dan Randi sangat menjaga surat itu”, gadis itu mengangkat kepalanya dan kembali berkata, “Tapi surat itu tiba-tiba saja menghilang cukup lama dan ketemu lagi digenggamannya ketika ia jatuh”.

“Kamu yakin itu surat yang sama”.

“Iya, aku yakin! Aku pernah baca! Walau surat itu sudah sedikit rusak dan ada beberapa katanya hilang karena kena hujan tapi, aku yakin itu surat yang sama. Aku masih menyimpan surat itu! Surat itu masih ada padaku!”, kata Riri meyakinkanku dengan semangat.

“Boleh aku melihatnya?”, tanyaku. Ia menatapku dan mengangguk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *