Kasus 2

Aku berjalan memasuki perpustakaan yang berada di lantai paling atas di bangunan tiga. Perpustakaan di panti ini tergolong kecil. Hanya ada 6 rak buku dan 3 meja besar dengan 6 kursi tiap mejanya. Anak-anak panti jarang pergi ke perpustakaan. Mereka memilih untuk mengerjakan PR atau belajar di bangunan 2, di kamar mereka atau taman. Ibu Munaroh mendekati aku yang baru saja memasuki perpustakaan.

“Hai, jarang sekali aku melihat Amanda datang kesini”, sapa bu Munaroh dengan ramah.

“Iya, aku ingin melihat-lihat perpustakaan”, jawabku dengan senyum yang lebar.

“Ada buku yang ingin kau cari?”, tanya bu Munaroh sambil membalas senyumku.

“Oh, tidak ada. Aku benar-benar hanya ingin melihat-lihat”, jawabku sambil lambai-lambaikan tangan untuk menolak bantuannya.

Aku berjalan perlahan melihat rak-rak yang diatasnya tersusun rapi buku-buku. Terlihat buku-buku disini lebih banyak buku tua. Aku mengintip setiap raknya, ada seorang anak perempuan kira-kira berumur 13 tahun duduk dilantai sambil membaca sebuah buku tua yang lebih besar dari kakinya. Aku mendekatinya.

“Halo! Sedang membaca buku apa?”, tanyaku sambil duduk disebelahnya. Gadis itu hanya melihatku bingung dan kembali membaca. “Hmmm… suka buku supernatural ya?”, lanjutku sambil melihat salah satu kata yang tertulis dibuku yang ia baca.

“Memang ibu tau tentang supernatural?”, tanya gadis itu. Akhirnya ia mau bicara denganku.

“Sedikit”, jawabku sambil tersenyum dan ia terlihat sangat tertarik. “Setiap tempat pasti ada kejadian supernatural yang tak bisa dijelaskan oleh siapapun”, katanya dengan yakin padahal aku sendiri tidak percaya dengan hal seperti itu.

“Termasuk disini?”, tanya gadis yang sedang antusias itu dan akupun mengangguk membenarkan. “Benar disini? Di danau Matano? Dan di panti ini?”, tanyanya tanpa henti.

Akupun berhenti mengangguk setelah mendengar pertanyaan ‘dan di panti ini?’. Aku menyipitkan mataku bingung dan bertanya, “Mengapa kau mengatakan hal itu?”.

“Karena hal yang terjadi akhir-akhir ini”. Aku masih kebingungan. Gadis itu menyadarinya dan menjelaskan, “Dalam 1 tahun ini ada 2 anak panti yang meninggal karena kecelakaan dan kecelakaan itu karena fenomena supernatural”. Aha! Akhirnya aku mengerti maksud gadis itu. Aku mengangguk pelan. Aku jelas-jelas tidak percaya dengan hal-hal supernatural.

“Menurutku….”, aku mendadak terdiam. Aku lupa belum menanyakan nama gadis mungil ini. “Boleh aku tau siapa namamu?”, tanyaku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

“Amel”, jawabnya singkat dan mengayunkan tanganku.

“Menurutku, Amel, fenomena supernatural tidak akan membuat seseorang meninggal tapi cukup membuat orang takjub dan terpukau”, jelasku dengan percaya diri.

“Tapi kasus seseorang bunuh diri karena sering melihat hal-hal supernatural juga ada”, ia membalik-balikkan bukunya dan menunjuk ke judul halaman yang dibukanya.

‘Misteri Gua Tengkorak Matano yang membawa kematian’

Aku terdiam dan membaca sedikit paragraph awal. “Apakah kamu tau kalau kedua anak panti yang meninggal itu pernah ke gua tengkorak?”, tanyaku dengan agak sedikit berhati-hati.

“Iya, Akbar pernah masuk kedalam gua itu”.

“Akbar?”.

“Korban pertama yang meninggal adalah Randi dan yang kedua Akbar. Mereka dan beberapa anak laki-laki lain pernah berlomba untuk masuk ke gua tengkorak yang ada di dasar danau Matano tapi hanya Akbar yang berhasil masuk kedalamnya”.

“Apakah kamu tau sesuatu tetang bagaimana Akbar meninggal?”, tanyaku dengan sangat hati-hati. Aku tak mau membuat Amel sedih mengingat bagaimana temannya meninggal.

Ia menarik tanganku dan mengajakku pergi ke sudut ruangan yang cukup jauh dari tempat kita duduk. Ia membuka sebuah laci kecil yang berada di bawah setiap rak. Ada sebuah buku yang lusuh dan berantakan. Ia menarik buku itu dan membukanya. Buku itu berisi potongan artikel dari majalah dan koran tentang kejadian supernatural.

Ia memperlihatkanku artikel tentang Akbar. Aku membacanya dan terkesima dengan hobi Amel yang suka mengumpulkan artikel supernatural. Ia menyusun setiap artikelnya sesuai dengan tanggal dan topik. Begitu rapi dan teratur. Aku membalik-balikkannya dengan perlahan agar tidak merusak harta karun Amel.

Tak hanya berisi potongan artikel tapi juga ada catatan yang ditempel berisi kesimpulan atau kata yang menarik bagi Amel. Ada satu hal yang sedikit ganjil pada kasus kedua ini. Aku yakin artikel yang dikumpulkan Amel akan sangat membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *