Pandangan Supernatural

Buku yang berisi banyak artikel supernatural milik Amel menjadi teman tidurku selama 2 malam ini. Tak henti-hentinya aku berpikir untuk tidak menghubungkan kasus meninggalnya 2 anak panti ini dengan cerita supernatural yang sudah ada di lingkungan sekitar danau Matano.

Aku terduduk di tempat tidurku dan membalik-balikkan lembaran artikel. Semua cerita berawal dari cerita rakyat tentang Gua Tengkorak dan larangan untuk memasukinya. Dari dulu orang-orang mempercayai cerita itu dan tak pernah mengingkarinya. Mereka percaya akan kejadian supernatural yang akan menimpa orang-orang yang melanggar cerita itu.

Randi, Akbar, dan 8 anak laki-laki lainnya yang seumuran mereka berlomba untuk menyelam ke dalam salah satu dari 6 Gua Tengkorak yang berada di bibir danau Matano. Bagi anak-anak seumuran mereka mampu menyelam ke Gua Tengkorak adalah kebanggan tersendiri karena anak-anak di sekitar danau Matano memang sudah pandai berenang dan menyelam.

Gua Tengkorak dulunya adalah sebuah pemakaman untuk orang-orang di Tana Luwu sebelum agama masuk. Sudah sejak beratus-ratus tahun yang lalu orang-orang memasukkan keluarga atau kerabat yang telah meninggal ke dalam liang batu. Didalam gua itu tidak hanya terdapat tulang-belulang, namun juga alat perang atau peralatan rumah tangga. Barang-barang yang ditenggelamkan bersama jenazah merupakan benda kesayangan mereka selama hidup.

Hanya anak-anak yang sudah dewasa atau di atas 17 tahun yang diperbolehkan masuk ke dalam gua tengkorak. Berbagai sumber mengatakan, orang dewasa sudah memiliki jiwa yang sempurna dan kuat sehingga tak akan terpengaruh dan terbawa ke dunia lain. Anak-anak yang masih di bawah umur sangat mudah di rayu oleh para arwah yang tidak tenang. Itu sebabnya larangan untuk anak di bawah 17 untuk menyelam ke Gua Tengkorak sangat keras oleh masyarakat setempat.

Randi, sebagai pemberi ide untuk menyelam ke Gua Tengkorak, menjadi korban pertama. Ia meninggal dengan menggenggam surat dari ibunya. Barang kesayangan, karena hanya itu satu-satunya yang diberikan orang yang telah melahirkannya padanya. Terlihat lebih meyakinkan jika Randi bunuh diri karena rayuan arwah dari Gua Tengkorak dibandingkan karena masalahnya dengan Riri.

Akbar, korban kedua, adalah anak yang berhasil menyelam hingga ke dalam Gua Tengkorak. Sebuah boneka yang sedikit hangus menjadi barang bukti yang menguatkan jika Akbar terkena rayuan para arwah. Akbar yang tanpa sebab keluar dari panti pada hari hujan, ditemukan meninggal tersetrum kabel yang sedang dalam perbaikan. Papan kayu peringatan bahaya bahkan masih berdiri tegak di dekat mayat Akbar ketika ditemukan. Akbar meninggal dengan menggenggam boneka yang merupakan peninggalan terakhir dari orangtuanya.

Tak ada saksi mata yang melihat bagaimana Akbar tersetrum dan tak ada yang mengetahui alasan ia keluar saat hujan. Warga sekitar danau Matano menjadi sangat yakin jika penyebab kematian mereka karena arwah dari Gua Tengkorak. Berita tentang kematian Akbar disebar luaskan agar semua orang tahu dan tidak meremehkan cerita yang sudah ada dari ratusan tahun yang lalu.

Aku menghela napas dalam-dalam. Aku butuh pergi ketempat Akbar ditemukan meninggal. Aku harus mencari bukti selain yang sudah tertulis di media cetak. Aku harus menganalisa bagaimana Akbar bisa menyentuh kabel yang sedang dalam perbaikan. Aku harus meyakinkan diri jika mereka tidak meninggal karena peristiwa supernatural.

Tengah malam, aku masih melamun di atas tempat tidurku. Terduduk sambil memegang buku artikel Amel. Mata kecil Mawah yang tiba-tiba terjaga, memandangku dari kejauhan. Aku menengok kearahnya dan tersenyum. Tak lama kemudian ia menghampiriku. Aku menutup buku artikel dan mempersilahkan dia untuk duduk disebelahku.

“Kenapa kamu terbangun?”, tanyaku dengan suara pelan untuk tidak membangunkan para pengurus panti yang lain.

“Aku mimpi buruk”, jawabnya dengan nada lirih. Aku iba dan memeluknya erat. Gadis itu bertanya tentang buku yang aku baca. Aku memperlihatkannya pada Mawah.

“Ini buku yang berisi artikel-artikel supernatural. Ibu pikir sebaiknya kamu tidak baca buku ini, nanti jadi makin sulit tidur”, jelasku kepadanya.

“Tapi nanti aku boleh membacanya?”.

“Iya, sekarang kita tidur, ya!”, ajakku ke gadis kecil itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *