Akbar

Aku memanggil Riri sebelum kelasnya di mulai. Aku ingin mengetahui siapakah 8 anak lain yang ikut menyelam bersama Randi dan Akbar. Riri meninggalkan teman-temannya untuk bicara denganku secara pribadi.

“Yang ikut menyelam di Danau Matano. Hmm….”, jawabnya terlihat sedikit bingung.

“Aku hanya ingin memastikan siapa mereka”, kataku yang berusaha meyakinkannya.

“Aku tak tau”, jawabnya singkat dan berusaha ingin meninggalkanku. Aku segera menarik tangannya.

“Bagaimana dengan Akbar? Dia temanmukan?”, tanyaku.

Riri memalingkan kepalanya dariku. “Kami memang teman akrab tapi aku juga tidak tau apa yang terjadi”, katanya sambil menggelengkan kepala.

Aku melihatnya dengan bingung.

Riri yang menyadari kebingunganku, lanjut berkata, “Akbar meninggal karena kecelakaan, tak ada satupun pengurus panti yang menjelaskan bagaimana ia meninggal. Bahkan kita semua tidak boleh melihat jenazahnya. Dan aku juga tak tau maksud ibu dengan ‘siapa saja yang menyelam di Danau Matano’”.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kebingunganku akan kematian Akbar, membuatku tidak menjelaskan maksudku kepada Riri. Mungkin Riri memang tak tau menahu tentang cerita Gua Tengkorak. Aku menanyakan bagaimana Akbar ditemukan.

Ketika itu hari sedang diguyur hujan besar dan angin kencang mengguncangkan semua pepohonan dan rerumputan. Semua anak-anak dan pengurus panti berkumpul di bagunan utama. Tak ada orang yang berani meninggalkan rumah kala itu. Sehingga para guru yang bukan termasuk pengurus panti juga tertahan di bangunan utama.

Beberapa minggu yang lalu, tiang listrik yang mengalirkan listrik ke bangunan dua roboh karena angin kencang. Perbaikan memerlukan waktu yang cukup lama. Karena lokasi panti yang berada di tempat terpencil sehingga tidak adanya tenaga ahli yang dan alat-alat yang memadai. Sehingga pengurus panti hanya meletakkan papan peringatan di dekat tiang listrik itu.

Pak Jomi di tugaskan untuk menjaga tempat itu. Pak Jomi adalah salah satu warga yang terlahir dengan down syndrome. Tak ada yang mau mengurusnya dan bahkan keluarganya tak mau mengakuinya. Orangtua dari Bu Andi mengambilnya dan mengurusnya hingga akhir hayat. Dan sekarang Bu Andi yang harus merawat Pak Jomi, meski kini ia sudah berusia 48 tahun.

Anak-anak dipanti sangat takut dengan Pak Jomi. Wajahnya yang terlihat berbeda dengan yang lain membuat semua anak menganggapnya monster. Mata yang besar dan terlihat hampir keluar membuat anak-anak panti lari ketakutan jika dilihat oleh Pak Jomi. Meski semua pengurus panti sudah mengajarkan untuk tidak menjauhi atau bahkan mencemooh Pak Jomi, tapi masih saja ada beberapa anak-anak yang melakukannya.

Tak ada yang mengetahui keberadaan Pak Jomi dihari Akbar tersetrum. Tetesan hujan yang menghantam genteng dan rerumputan dengan keras menimbulkan kebisingan meski jendela dan pintu tertutup. Dalam gelap, semua anak-anak panti disuruh duduk merapat dan berdoa bersama.

Tak ada yang merasakan pertanda buruk ataupun mendengar hal-hal yang ganjil saat itu. Hingga ketika angin kencang sudah mereda meski masih gerimis, seorang warga datang dan memberitahu tentang asap dari belakang panti. Ibu Rina dengan cepat langsung mengambil lampu minyak tanah dan berlari ke arah asap yang dimaksud.

Bu Rina menemukan tubuh Akbar sudah berbaring di rerumputan yang basah. Rintik hujan membasahi kulitnya yang sudah menghitam dan melepuh. Bu Rina yang terkejut, langsung berteriak dan membuat heboh semua orang yang berada di dalam bagungan utama. Beberapa pengurus panti dan guru menghampiri Bu Rina, sedangkan sisanya tetap menjaga agar tak ada anak panti yang keluar.

Hingga setelah Akbar di makamkan tak ada satupun dari teman-temannya di izinkan untuk melihat jenazah Akbar. Garis polisi sudah terpasang membatasi lokasi Akbar di temukan dan gardu listrik yang memang milik panti. Banyak polisi yang berlalu-lalang dan beberapa wartawan yang mencoba mewawancarai para pengurus, guru, dan anak-anak panti. Sedangkan Pak Jomi langsung di amankan.

Semua bukti dan dugaan mengarah ke Pak Jomi. Kabel di daerah itu seharusnya sudah tidak dialiri listrik karena sudah diputuskan di dari gardu utama. Namun, dihari itu tuas untuk memutuskan aliran listrik ternyata ada pada posisi ON dan hanya terdapat sidik jari Pak Jomi di tuas tersebut. Tak ada yang bisa menarik Pak Jomi ke rutan besi karena kekurangan Pak Jomi, sehingga kasus itu dianggap murni kecelakaan.

Hukuman yang di jatuhkan ke Pak Jomi hanyalah pengawasan lebih dan sekarang para warga mendirikan sebuah gubuk kecil untuk Pak Jomi tinggal. Pak Jomi hanya boleh meninggalkan gubuk itu jika ia pergi bersama seseorang dan itu juga harus diketahui oleh beberapa orang penting disana. Tiap malam Pak Jomi harus kembali ke gubuk dan kakinya harus diikat di tempat tidur agar ia tidak pergi dan melakukan hal yang akan membahayakan seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *