Loteng

Pagi buta, aku berlari kearah gerbang masuk. Tak jauh dari gerbang ada sebuah gudang kecil yang terbuat dari kayu. Dalam kertas yang bibi Murti tinggalkan semalam tertulis kalau aku harus mencari koran lokal yang menulis tentang kasus Randi. Seperti yang aku duga pintu gudang itu terkunci, untungnya aku sudah mencuri kunci seorang pengurus disini. Semoga ada kunci yang cocok.

Continue reading “Loteng”

Kasus 1

Pagi buta, aku bergegas membersihkan ruang makan dan membersihkan lorong utama. Belum hilang letih dari perjalanan panjangku, kini ditambah lagi dengan kegiatan bersih-bersih disini. Aku menggerutu sendiri sambil tetap mengepel lantai lorong utama. Satu-persatu anak yang sudah bangun dan bersih datang. Aku tersenyum pada mereka. Namun, mereka masih takut-takut untuk menerima keramahanku. Rasa letihku menjadi bertambah.

Continue reading “Kasus 1”

Posisi

Teriknya matahari di Makasar membakar kulitku. Hiruk-pikuk orang-orang membuatku bingung menemukan sopir yang kusewa untuk pergi ke panti. Hampir 30 menit aku berlalu-lalang di bandara menanyakan satu persatu orang yang kukira adalah sopir yang kusewa. Namun tidak kutemui juga. Berkali-kali aku menelpon nomor sopir itu, namun tidak ada jawaban. Aku terduduk lelah di pojokan bandara. Ramainya bandara membuatku tak menemukan kursi kosong. Berkali-kali aku menghela napas dan menengok kekiri dan kekanan. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaannya.

Continue reading “Posisi”

Surat

Hujan membasahi kota ditengah bulan Februari. Aku menapaki jalan setapak menuju rumah. Dinginnya hari terasa menusuk kulitku meski aku terlindungi jas hujan. Perjalanan kerumah menjadi terasa sangat jauh untuk hari ini. Aku menghela napas dalam-dalam. Setelah keluar dari kepolisian, aku tak tau apa yang harus kulakukan. Aku memejamkan mata dan berpikir sejenak tentang rencanaku. Aku akan tetap pada tekadku.

Continue reading “Surat”